Berhenti Memaksa Kehendak: Rahasia Tawakal Sejati dan Kekuatan Pertolongan Allah


Seorang saudara dari media sosial, penonton saya, berkata: “Guru yang terhormat, saya sudah berusaha keras agar beberapa hal terwujud. Sekarang saya tidak ingin memaksakan lagi. Saya sudah bertawakal, tapi masih ada satu pertanyaan di dalam hati saya. Apakah benar-benar tidak ada satu pun hal yang seharusnya terjadi jika kita memaksakannya? Apakah berhenti memaksa itu berarti menyerah, atau justru menyerahkan hati saya kepada Allah?” Saudara tercinta, kita sering lupa akan hal ini. Kontribusi kita dalam terjadinya suatu urusan hanyalah satu persen. Sembilan puluh lima persennya adalah pertolongan Allah, mari kita terima itu. Empat persennya lagi adalah hubungan antarmanusia. Jadi, berapa besar peran kita dalam terjadinya suatu urusan ini? Hanya satu persen. Dan dengan satu persen itu kita berkata, “Saya sudah berusaha, kenapa tidak terjadi?” Bagaimana menurut Anda? Segala macam kebaikan yang kita miliki saat ini, itu berkat siapa? Nabi kita selalu menjelaskan tentang keikhlasan, dan salah satu dari tujuh syarat keikhlasan adalah ketelanjangan spiritual. Pada hari itu, Allah Ta'ala berfirman, “Lepaskan semua yang telah Aku berikan kepadamu, lepaskan dan lihat dirimu sendiri.” Ya, ternyata tidak ada yang tersisa. Benar-benar tidak ada yang tersisa. Artinya, hal ini mempengaruhi kita semua. Jika kita sedang merasakan kebahagiaan, semua itu berkat siapa? Berkat Allah. Berkat pertolongan Nabi kita. Ya, memang begitulah kejadiannya. Kita harus menyadari hal ini. Sungguh, tanpa pertolongan dan doa Nabi kita, kita tidak bisa sampai ke sini. Jika Allah tidak menolong, kita tidak bisa melakukan apa pun. Namun kita sering mengira bahwa semua itu karena diri kita sendiri. Lalu kita melihat seseorang yang telah beribadah selama lima ratus tahun. Allah Ta'ala berfirman, “Wahai hamba-Ku, dengan rahmat-Ku atau dengan amalmu sendiri?” Ketika dia menjawab, “Dengan amal saya sendiri,” Allah berkata, “Lemparkan dia ke neraka.” “Ya Rabb, bagaimana bisa?” Padahal sudah banyak ibadah dan sebagainya. Allah berfirman, “Wahai hamba-Ku, itu bahkan tidak sebanding dengan satu mata yang telah Aku berikan kepadamu.” Bukankah begitu? Jadi, apa yang sebenarnya dimiliki manusia? Misalnya dia adalah orang terkaya di dunia. Katakanlah salah satu matanya sakit. Seseorang berdiri di hadapannya dan berkata, “Sahabat, jika engkau memberikan semua hartamu kepadaku, aku akan memberikan mata ini kepadamu.” Akankah ia memberikannya? Tentu saja ia akan memberikannya. Oleh karena itu, cara hidup kita sering berbeda dari hukum-hukum Allah. Karena itulah kita harus selalu mencari perlindungan kepada Allah. Kita selalu lemah di hadapan-Nya. Semua keindahan berasal dari-Nya, sedangkan semua keburukan berasal dari diri kita sendiri.