Apakah Pikiran Buruk Menghapus Pahala? Simak Penjelasan Hadist Ini!


Apakah kita kehilangan derajat karena memikirkan suatu keburukan? Tidak, saudara-saudaraku yang tercinta, maksudnya begini ... Hadis yang diriwayatkan dari Nabi kita seperti ini. Kamu memikirkan suatu keburukan, tapi tidak melakukannya. Apakah kamu kehilangan derajat? Tidak. Jika Kamu memikirkan suatu keburukan, lalu melakukannya. Maka kamu akan kehilangan derajat satu banding satu. Tapi jika kamu memikirkan suatu kebaikan dan tidak melakukannya ... Apakah Anda akan memperoleh derajat? Ya. Pikirkanlah kebaikan karena niatmu, niscaya engkau akan mendapat derajat. Dan jika kamu memikirkan suatu perbuatan baik dan melakukannya. Maka kamu akan memperoleh derajat yang lebih tinggi. Mulai sekarang, lanjutkanlah memikirkan kebaikan agar memperoleh derajat. Jadi, seperti hadits yang muncul di layar. Jika hamba-Ku berniat mengerjakan suatu kebaikan, namun tidak jadi mengerjakannya, maka Aku tuliskan baginya satu kebaikan. Tetapi jika dia melakukannya, Aku akan menuliskan baginya pahala hingga tujuh ratus kali lipat. Dan Jika dia berniat melakukan keburukan ... Jika tidak jadi melakukannya, Aku tidak akan menuliskan dosa baginya. Namun jika dia melakukannya, Aku hanya menuliskan satu keburukan sebagai balasan satu keburukan. Jadi, apakah kita kehilangan derajat karena pikiran negatif lainnya? Tidak. Tetapi kita bisa kehilangan derajat karena prasangka buruk. Prasangka juga sejenis pikiran, tapi untuk siapa prasangka itu? Prasangka buruk yang kita miliki terhadap orang lain. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12. Apa yang dikatakan dalam ayat tersebut? "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka!" Sebagian prasangka itu apa? Itu adalah dosa. Namun, tentang siapa asumsi-asumsi ini? Tentang orang lain. Anda berasumsi. Mari kita beri contoh. Seseorang pergi bersama saudara perempuannya. Jika kamu berpikir hal yang berbeda dari itu, apakah itu asumsi atau bukan? Mengira bahwa mereka punya hubungan berbeda. Jadi, apakah asumsi seperti itu akan menjeratkan kita? Ya. Adapun ayat tersebut, Allah SWT berfirman: Dan berhati-hatilah kamu terhadap kebanyakan prasangka. Apa saja asumsinya? Itu adalah dosa dan sudah pasti tidak boleh dilakukan. Dzikir. Oleh karena itu, dalam dzikir, kita memohon pertolongan kepada Allah. Ya Allah, kami memiliki diri seperti itu dan kami menyadari bahwa itu di bawah pengaruh setan. Dan hanya Engkaulah yang mampu mensucikan jiwa kami dan membersihkannya dari bencana-bencana ini. Itu tergantung pada dzikir, dan tentu saja, pertama-tama, dzikir ini juga bergantung dengan melewati tingkat persiapan yang kita jalani. Syarat pertama dari tingkat persiapan adalah berkeinginan untuk mencapai Allah, yaitu empat syarat hati. Syarat kedua adalah mengikuti mursyid, yaitu tiga syarat hati. Jadi total kita harus memiliki tujuh syarat hati agar dzikir itu dapat melakukan apa terhadap jiwa kita? Agar dapat memperbaikinya. Jika syarat-syarat ini tidak ada, seberapa banyak pun kita berdzikir, apakah kita bisa memperbaiki jiwa kita? Tidak. Tidak mungkin. Bagaimana kita bisa mengalahkan nafsu jiwa kita? Itu hanya dengan bantuan Allah. Misalnya kita ingin bepergian. Dan kita mengikuti arahan sang pemandu, jadi kita mulai menerima pertolongan Allah melalui sang pemandu. Sama halnya jika kita berdzikir sesuai perintah Allah, kita dapat mencapai tujuan kita dengan izin Allah.