Kisah Tragis Qarun: Harta, Kesombongan, dan Rahasia Cinta Kepada Allah


Apa yang dikatakan Qarun? Allah berkata kepadanya; “Lihat, Aku yang memberimu semua ini. Kamu juga berikanlah kepada hamba-hamba-Ku, agar kamu mendapatkan keuntungan dari ayat ini dalam hidupmu. Agar ketika kamu mati nanti, wahai Qarun, kamu tidak menyesal.” Apa jawaban Qarun? “Memangnya urusanku apa,” katanya. “Aku, akulah pemilik ilmu. Semua kekayaan ini aku dapatkan dengan ilmuku sendiri,” katanya. Allah SWT pun menjawabnya. Dia berkata, “Hai Qarun! Pernahkah kamu berpikir bagaimana Kami telah membinasakan orang-orang sebelum kamu yang jauh lebih kaya dari kamu?” demikian firman-Nya. Qarun tampil di hadapan orang-orang dengan kekayaan dan kemegahannya. Lalu bagaimana perasaannya tentang semua kekayaan yang telah dikumpulkannya? Apa perasaannya? Dia hanya ingin pamer kepada orang-masing, membesar-besarkan dirinya sendiri. “Lihat, inilah aku.” Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Andai saja kita juga memiliki apa yang diberikan kepada Qarun. Sungguh, dia benar-benar pemilik kebahagiaan terbesar.” Apa pendapat kalian? Mereka memahaminya seperti itu. Saat ini, semua orang yang mengejar dunia… Ketika mendengar kata “orang kaya”, mereka langsung tergiur. “Wah, kehidupan mereka benar-benar luar biasa.” Tapi benarkah begitu kenyataannya? Tidak. Sebenarnya Allah SWT yang melihat dan mengetahui hati mereka mengatakan bahwa itu tidaklah demikian. “Celakalah kalian.” Mereka yang ingin mencapai Allah… kepada siapa mereka berbicara? Dia berbicara kepada mereka yang menginginkan kehidupan dunia. Celakalah kalian. Bagi mereka yang beramal, melakukan amal saleh, menginginkan untuk mendekat kepada Allah dan mengikuti seorang mursyid, mereka mendapatkan pahala dari Allah jauh lebih baik. Apakah kalian benar-benar menginginkan untuk mendekat kepada Allah dari hati? Apakah dari lisan, atau dari hati? Berapa banyak orang saat ini yang mengucapkan Allah, Allah? Ya, pembuktiannya ada pada kalian. Pembuktiannya ada di hati kalian, saudara-saudaraku yang terkasih. Mengatakan “saya ini, saya itu” hanyalah omong kosong. Saya memanggil kalian sekali lagi: Apakah kalian benar-benar menginginkan untuk mendekat kepada Allah dari hati? Apakah dari lisan, atau dari hati? Menginginkan untuk mendekat kepada Allah dari hati adalah dengan mencintai Allah.